Apakah Berfilsafat itu ?
Berfilsafat adalah suatu jalan untuk mengungkapkan kebenaran tentang beragam tahapan kehidupan dan segala yang terkait dengannya dan untuk mengungkapkan tentang tujuan bagi pemenuhan setiap tahapan kehidupan tersebut dan untuk mengungkapkan jalan bagi terwujudnya hal tersebut secara relevan, agar diperoleh penyesuaian terbaik terhadap segala yang kita hadapi.
Adakah “Alien” menurut Al Quran ?
Adakah makhluk berkecerdasan selain manusia yang berasal dari planet lain atau dari lokasi yang terdekat dari bumi atau sama, tetapi berbeda jenis dari manusia ?
Saya lebih menyoroti konsekuensi dari beberapa makna saling terkait di antara ayat Al Quran: Read more…
Berjudi
Menurut saya, berbicara mengenai perjudian selalu terkait dengan beberapa hal, di antaranya adalah:
1. Bermanfaat (sesuai urutan prioritas)/tidak
2. Konsisten (menjaga manfaat)/tidak
Sesuatu yang bermanfaat tapi tidak konsisten dan tetap dipertahankan boleh jadi itu berjudi atau terjebak di dalam kekacauan (ketidak-tahuan), sedangkan sesuatu yang tidak bermanfaat tetapi konsisten dan dipertahankan, berarti nekad atau punya harapan akan adanya perubahan. Read more…
Validasi Kebenaran, “Mengamati”, “Memahami” atau “Mengalami”?
Ketika seseorang mempertanyakan suatu kebenaran, maka kepastian bagi suatu dugaan kebenaran cenderung dihakimi oleh pengamatan. Pengamatan ini dapat dilakukan dengan uji pendengaran, uji perabaan, dan uji penglihatan. Namun mungkin yang paling disukai adalah uji penglihatan, dimana tanpa dapat dilihatnya suatu kebenaran, segera dinyatakan sebagai kurang benar atau bahkan tidak benar (tidak dapat dipercaya) sama sekali. Lalu bagaimana seharusnya … ? Read more…
Terbukti Tuhan Itu Ada (Argumentasi Ada Tiada)
Argumentasi saya didasarkan kepada kebenaran axiomatis dan konsekuensi konsekuensinya. Beranikah anda menerima kebenaran ketika ia hadir, walaupun anda merasa ada keanehan dengan yang dialami sehari-hari ? Dan beranikah anda tidak bersepakat tentang suatu kebenaran bukan karena kebenaran tersebut dirasa janggal tidak sesuai dengan pengalaman sehari-hari, tetapi karena anda memang belum paham atau mengakui sebagai ketidakbenaran lalu bersedia berdiskusi lebih lanjut ? Read more…
Apakah “Yang Meliputi” sama dengan “Yang Diliputi”?
Jika tidak berhati-hati, tipisnya batasan yang tidak terlihat akan menimbulkan salah menempatkan diri kita di dalam menanggapi suatu kebenaran, dan bisa jadi kita tidak dapat memanfaatkan suatu kebenaran dengan optimal. Read more…
Terbatas dan Tak Terbatasnya Tuhan
Ketika kita melibatkan premis dari suatu penalaran, kita harus selalu berusaha untuk memilih premis yang memiliki kemendasaran struktur (axiomatis), dan kita berusaha menghindari terlibat dengan pernyataan di level pemahaman sehari-hari. Di dalam interaksi di kehidupan sehari-hari, akan lebih praktis jika menggunakan pemahaman yang umum, tetapi ketika kita menghendaki suatu kebenaran, maka kita harus bisa melihat menembus topeng pemaknaan sehari-hari, agar kejernihan sesuatu kebenaran dapat kita ketahui, dan tidak terjebak oleh ketidak-konsistensian yang berakibat kepada perdebatan yang tidak saling bersepakat. Bahkan kalaupun ditemukan kesepakatan, boleh jadi kesepakatan tersebut merupakan kesepakatan yang hanya sekedar “adanya kesepakatan” tanpa bergerak maju menuju kepastian akan ada tidaknya dugaan awal tentang sesuatu hal. Memang ada kesepakatan, tetapi ia tidak bergerak kepada kebenaran, karena memang kebenaran letaknya di struktur mendasar dan bukan pada pemahaman di level permukaan. Read more…
COMMENTS