Debate

refreshSampai seberapa jauh perdebatan diperlukan ? Pada kenyataannya selalu ada pihak yang tidak puas hanya sekedar penjelasan seperlunya tanpa perdebatan. Ini tidak berarti perdebatan – bahkan walaupun demi alasan membela kebenaran – berada dalam prioritas utama memberikan penegasan tentang suatu kebenaran, melainkan sebagai jalan terakhir ketika beberapa orang merasa sedemikian sulit melihat kesederhanaan kebenaran dalam hal apa saja.

Itupun hanya ditujukan secara khusus kepada pihak yang mungkin tidak menyukai perdebatan tetapi watak bawaannya siap untuk menelaah esensi suatu perdebatan. Tetapi bahkan di masa dahulu ketika filsafat memasuki umat Islam, mau tidak mau senjata terakhir menghadapi perdebatan keimanan adalah perdebatan itu sendiri. Namun seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa perdebatan seharusnya bukanlah priroritas utama dalam mencari solusi pemahaman.

Perdebatan adalah merupakan pemenuhan satu sisi keseimbangan dalam memahami sesuatu. Dan adalah benar (walaupun tidak selalu, karena suatu ketika perdebatan pasti menghadang kita) bahwa harus kita budayakan cara yang lebih mudah selain dari perdebatan sebagai batasan keras jauh sebelum digunakan cara terakhir yaitu perdebatan.

Yang perlu ditegaskan disini bukanlah meniadakan sama sekali perdebatan sebagai cara buruk atau terburuk dalam memahami sesuatu atau untuk tujuan apapun, melainkan meletakkannya secara hati-hati pada prioritas yang tepat sesuai situasi dan kondisi, karena apa saja jika diletakkan pada tempatnya secara bijaksana maka tidak akan lagi terlihat, mana yang benar dan mana yang salah, melainkan hanyalah keserasian.

Tetapi apakah hal ini telah kita lakukan ? Sayangnya saya secara pribadi tidak akan pernah mengetahuinya. Untuk itu kita harus sering memohon ampun kepada Allah jika dalam segala kebijaksanaan tindakan dirasa kurang tepat. Kita hanyalah manusia bodoh yang berusaha agar selalu tepat dalam tindakan, Amin.

Perdebatan hanya akan menjadi senjata terakhir yang penuh hikmah dalam memperoleh kebenaran hanya jika beberapa hal dilaksanakan dengan sedemikian ketat:

1. Adab kerendah-hatian: (karena kita juga belum mengetahui sampai seberapa jauh kualitas dari solusi yang ditawarkan oleh diri sendiri), dengan menghindari caci-maki dan tindakan keangkuhan dalam bentuk apapun. Untuk yang satu ini anda bahkan kita tidak dapat menipu Allah tentang sampai seberapa jauh hal ini (debat atas dasar kerendah-hatian) dapat terlaksana.

Boleh jadi anda melakukan perdebatan atas nama kebenaran, tetapi segera setelah terlihat anda mengacungkan jari, berkacak pinggang atau sikap merasa benar atau terkesan memaksakan kehendak lainnya, maka kita telah terjebak dalam keangkuhan. Mungkin kita berada di posisi yang benar, tetapi seolah-olah – kalaupun solusi kita terpakai – hanya seperti martir, dimana orang lain menikmati kebenaran solusi kita, tetapi pahala atau cinta-kasih yang merupakan penghargaan dari Allah tidak kita dapatkan.

2. Adab kesabaran: (kita tidak pernah mengetahui kemampuan daya nalar – pemahaman – lawan bicara kita), berusahalah semampu kita mengukur sampai seberapa jauh lawan bicara kita memahami apa yang kita utarakan, atau melihat kembali kepada diri sendiri tentang kemungkinan (justru) diri kita sendiri yang belum memahami permasalahan.

Tidak segan untuk meminta penjelasan terhadap lawan bicara agar komunikasi dapat tetap berlangsung. Cobalah menggunakan penjelasan yang logis atau cara lainnya yang dianggap dapat saling dipahami.

3. Adab Prioritas: (masih ada hari esok), lihatlah seberapa penting perdebatan harus dilaksanakan. Jangan sampai mengorbankan hal-hal lain yang lebih utama. Dan kalaupun perdebatan dianggap harus dituntaskan karena menyangkut hal penting, teliti lagi apakah sedemikian penting ?

Untuk menentukan seberapa penting prioritas suatu topik dalam perdebatan, cobalah bertanya dahulu sebelum berdebat, apa saja dalam kehidupan anda pribadi di masa sekarang yang harus dijaga dan harus segera ditindak-lanjuti ? Kemudian pastikan apakah perdebatan yang akan anda lakukan tidak mengabaikan hal ini. Lalu pastikan juga dampaknya secara meluas. Dan yang paling penting adalah perlu diketahui bahwa solusi apapun akan sulit diketahui kesempurnaannya, jadi yang dicari adalah solusi dengan resiko seminim mungkin.

4. Adab Ketulusan : Sudahkah kita melakukan perdebatan dengan dilandasi oleh ketulusan ?

5. Adab Pengawasan Hati: (ini adalah elemen yang terpenting untuk mawas diri), yaitu setelah anda selesai melakukan perdebatan dengan hasil akhir: memuaskan atau ditunda atau status apapun itu, lakukanlah cek terhadap batin anda:

  • Apakah ketulusan anda berkurang ?
  • Apakah kerendah-hatian anda berkurang ?
  • Apakah kesabaran anda berkurang ?

Jika hal ini berkurang dari kebiasaan anda sehari-hari berarti ada yang kurang tepat dalam melakukan perdebatan ! Dan jika bertambah (semakin rendah-hati, semakin sabar atau semakin tulus mewarnai kehidupan anda sehari-hari) maka perdebatan memiliki nilai lebih. Dan kalau nilai-nilai tersebut tetap kadarnya sebagaimana mewarnai di kehidupan anda sehari-hari, konsekuensinya boleh jadi anda telah melakukan kesia-siaan atau boleh jadi bukan kesia-siaan di pihak lawan anda (jika ini benar atau tidak anda ketahui), maka hanya berharap saja agar anda tidak melakukan kesia-siaan. Bahkan ini dapat diterapkan di segala segi kehidupan kita. Dan untuk semuanya ini anda tidak dapat menipu Allah, anda mengetahui dengan pasti terhadap diri anda sendiri !

Sebenarnya masih ada banyak adab lainnya dalam perdebatan, saya dan anda dapat menambahkan sendiri sejauh pemahaman anda dan saya sendiri. Semoga kita selalu mendapatkan kebijaksanaan, Amin.

Home

Post a Comment