Home > Philosophy > Penalaran Imajinatif

Penalaran Imajinatif


Ada suatu cara pengambilan kesimpulan melalui simulasi. Dimana pokok pokok kebenaran dipilih dari jenis kebenaran axiomatis. Kemudian beberapa kebenaran axiomatis tersebut diangkat ke wilayah imajinatif untuk ditelusuri hubungan diantaranya, apakah memiliki keterhubungan. Jika ada keterhubungan, maka hasilnya adalah pengetahuan baru yang merupakan kesimpulan.

Ini biasa disebut sebagai “gedanken experiment” “thought experiment”.Saya sering menganggap ini sebagai penalaran imajinatif, tetapi tidak berarti hasilnya imajinatif. Landasan untuk melakukan penalaran imajinatif tetap menggunakan premis premis kebenaran universal. Perbedaannya, di dalam dunia imajinatif, kita berusaha membuat simulasi dari watak kebenaran-kebenaran menjadi visual, kemudian kita mencoba membenturkan karateristik dari kebenaran-kebenaran axiomatis yang telah menjadi kebenaran visual, untuk dilihat apakah menyimpulkan sesuatu atau tidak. Persyaratan untuk melakukan hal ini dibutuhkan: kejelasan dan ketahanan imajinasi yang kuat dan penguasaan pokok kebenaran axiomatis secara teguh agar ketika di konversi ke dunia visual tetap dapat teguh mensimulasikan karakter dari kebenaran axiomatis. Dari sini kita memulai membentuk simulasi interaksi untuk mencari kesimpulan atau pengetahuan yang baru.

Untuk lebih memudahkan pemahaman tentang bagaimana dan seberapa jauh penalaran imajinatif dapat dimanfaatkan untuk penalaran secara akurat, maka anda perlu memahami beberapa contoh.

Di dalam kehidupan sehari-hari telah banyak dilakukan yaitu kegiatan simulasi. Simulasi adalah contoh yang paling popular di dalam menjelaskan bagaimana kita dapat meniru sejumlah aturan tertentu untuk suatu proses pembelajaran.

Komputer dapat melakukan program simulasi penerbangan atau lainnya didasarkan kepada masukan data tentang bagaimana sesuatu berinteraksi di kehidupan nyata. Data ini dikonversi ke dalam bentuk visualisasi di layar computer atau menjadi suatu perangkat yang dapat dikendalikan. Tentu ada batasan untuk menjaga validitas sampai seberapa jauh simulasi layak dijadikan panduan di dalam menjelajahi kemungkinan lain lebih lanjut yang dapat dijadikan kita sebagai pembelajaran atau perluasan pengetahuan dan ketrampilan.

Sebenarnya ini harus dijelaskan secara detail, tetapi kemungkinan panjangnya penjelasan (yang boleh jadi juga masih kurang) dapat saya kurangi sampai batas yang cukup untuk membuat anda lebih memahami gedanken ini.

Ketika simulasi penerbangan dibuat di beberapa Negara menggunakan system terkomputerisasi, ada beberapa yang perlu dipersiapkan. Pertama adalah data tentang bagaimana suatu gerakan dari suatu object berinteraksi dengan keadaan di ketinggian tertentu, bagaimana suatu object bergerak ke suatu sudut tertentu, hukum gesekan, dan lain sebagainya. Semua hukum fisika yang berkaitan dengan simulasi penerbangan dikumpulkan. Pengetahuan ini nantinya akan dijadikan (di konversi) sebagai bentuk visualisasi yang dapat ditelusuri (sehingga dapat juga di nalar) melalui media computer atau pergerakan alat mekanis dan alat pendukung simulasi lainnya. Hasil konversi ini tetap mempertahankan batasan batasan yang ditentukan oleh hukum fisika. Jadi jika hukum fisika tentang pergerakan memiliki batasan seberapa jauh benda dapat bergerak di suatu keadaan tertentu, maka batasan ini juga harus dimiliki oleh alat mekanik atau simulasi computer sedemikian rupa, sehingga simulasi dan alat mekanik tersebut juga pada akhirnya harus mampu meniru pergerakan dengan keterbatasan gerak sesuai dengan yang disyaratkan oleh hukum fisika tentang gerak yang diadopsi tersebut.

Lalu bagaimana simulasi tertentu dapat dikategorikan sebagai simulasi yang lengkap ? Tidak bisa. Bagaimanapun juga simulasi penerbangan yang ada saat ini hanya mampu mensimulasikan hukum fisika secara terbatas, sehingga hasil (jangkauan) simulasi juga terbatas. Tetapi ini bukan masalah, karena kita tidak sedang memfokuskan kepada segala hal melainkan hanya pada batas tertentu saja.

Di beberapa Negara maju, dengan memasukkan hukum alam, kemudian mensimulasikan ke dalam system computer, membuat mereka dapat menvisualkan cuaca, kemungkinan pergerakan tornado, bahkan mengetahui adanya object baru di luar angkasa. Ini bukan sesuatu hal yang aneh lagi sekarang, dan mereka memahami bahwa GIGO (garbage In Garbage Out) berlaku disini. Masukan yang salah akan menghasilkan program simulasi yang juga tidak akurat atau bahkan salah sama sekali. Yang kita soroti bukanlah bahwa simulasi dapat secara sempurna meneliti suatu keadaan alam atau hal lainnya, tetapi bahkan ketika kita menyadari kemungkinan adanya ketidaksempurnaan di dalam mensimulasikan, tetapi jika kehati-hatian dijaga dengan sangat ketat, maka hasil simulasi dapat dipertanggung-jawabkan. Uji aerodinamika adalah salah satu lain lagi di dalam penggunaan simulasi.

Nah, kembali kepada simulasi yang dilakukan di pikiran kita. Sebenarnya ada kelebihan dan kekurangan menggunakan simulasi yang dibentuk oleh pikiran. Kelebihan yang jelas adalah bagaikan membuat laboratorium simulasi termurah (hanya membutuhkan menjaga kesehatan diri agar pikiran tetap dapat bekerja sebagaimana mestinya), yang mobile – dapat dibawa kemanapun dan sebagainya. Kelemahannya adalah bahwa tidak setiap orang dapat mensimulasikan dengan pikiran hukum hukum fisika yang tidak hanya satu, melainkan lebih dari satu dan mempertahankan terus menit demi menit, berulang-ulang entah sampai kapan sejumlah hukum fisika, kemudian mengganti dengan hukum fisika lain, di interaksikan (disimulasikan) di pikiran untuk melihat kombinasi kemungkinan yang dapat terjadi, dan …, ini dilakukan secara terus menerus untuk memastikan atau menyimpulkan suatu pengetahun (penegasan) yang baru. Dibutuhkan ketahanan mental (karena cukup melelahkan).

Jadi dimisalkan, kita mensimulasikan benda sekeras besi dan seberapa jauh besi dapat melunak karena panas. Hukum yang kita kenal di dunia empiric tentang kekerasan besi dan bagaimana serta seberapa jauh besi dapat melunak, ini semua juga kita simulasikan secara serempak di dalam pikiran, lalu kita benturkan, interaksikan satu dengan lainnya untuk melihat bagaimana konsekuensi lebih lanjut dari hal ini. Ini semua jika tidak dapat dipertahankan secara serempak, maka simulasi akan menjadi tidak akurat. Itu sebabnya sekelompok orang mengalihkan dari simulasi menggunakan pikiran kepada simulasi menggunakan system komputerisasi.

Dari sini dapat kita lihat, batasan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan di dalam membuat simulasi yang harus dijaga secara ketat, agar hasilnya benar-benar mewakili keadaan yang sebenarnya dan memberikan hasil praktek dan kesimpulan lainnya yang akurat, sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, karena sedemikian lenturnya pikiran kita, yang juga ditemukan di dunia simulasi computer, maka dibutuhkan batasan di dalam membuat simulasi yang akurat (benar-benar mencerminkan realita). Apakah itu ?

Hukum yang akan di konversi ke dalam system simulasi (pikiran, computer atau pergerakan alat mekanik) haruslah di ambil dari kenyataan yang telah teruji (dunia empiric), dan bukan dari dugaan. Anda harus membedakan dengan berkhayal! Berkhayal tidak menggunakan hukum yang berlaku di dunia empiric. Bahkan kalaupun dinyatakan bahwa berkhayal juga menggunakan logika, namun tidak secara keseluruhan. Berbeda yang terjadi pada gedanken, SEHARUSNYA semua konversi diambil dari hukum yang berlaku di dunia empirik.

Hukum fisika dapat merupakan kebenaran particular (hanya berlaku di belahan dunia tertentu saja) atau berlaku secara universal (seperti contohnya adalah hukum kekekalan energi). Dan bukan masalah jika hukum yang dikonversi ke dalam laboratorium pikiran di ambil dari jenis yang particular, tetapi anda juga tidak boleh mengharapkan kesimpulan yang di ambil dari simulasi pikiran memiliki kebenaran universal, melainkan hanya sebatas particular. Demikian pula jika anda menginginkan kesimpulan baru yang bersifat universal, maka konversi di ambil dari hukum yang dikenal di dunia empiric yang dipahami sebagai kebenaran yang universal.

Memang, nanti ketika kita mempraktekkan hal ini dengan tetap menjaga akurasi, maka dapat saja kita mensimulasikan pergerakan object di ruang kosong, ke masa lalu atau ke masa depan, dan menelusuri patahan (frame) dari suatu pergerakan, mendeteksi bagaimana “waktu” yang ternyata ia hanyalah penggalan (frame) kejadian dan seterusnya, yang mungkin menurut anda hal itu belum terbukti dapat dilakukan di dunia nyata. Bagaimana mungkin anda dapat mengikuti waktu dari kemungkinan pergerakan object di luar angkasa (yang boleh jadi tidak pernah anda lakukan di dunia nyata) ? Bagaimana mungkin anda dapat menelusuri masa lalu, sedangkan anda juga tidak pernah menuju ke masa lalu ? Sebenarnya bukan demikian, tetapi segera setelah anda memahami hukum apa saja yang paling dimungkinkan terlibat di dalam kenyataan sehari hari tentang perjalanan ke masa lalu, maka itu sudah cukup untuk disimulasikan pada pikiran kita. Dan dari sini kita dapat menelusuri masa lalu di pikiran sebagai bentuk patahan-patahan kejadian dan seterusnya.

Satu hal lagi, bahwa karena laboratorium ini menggunakan pikiran, maka ia melibatkan kesadaran kita, dan kesadaran kita sangat dekat dengan perasaan dan kemampuan kita untuk berkhayal. Sehingga beberapa orang melihat penalaran imajinatif sebagai hal yang “imajinatif” alias tidak logis. Mengapa ? Ini dikarenakan tipisnya jarak antara simulasi pikiran dengan perasaan kita. Kita jadi merasa sepertinya ini adalah permainan perasaan, subyektifitas, maupun berkhayal. Sebenarnya tidak demikian. Sejauh pelaksanaan dari sesuatu dilakukan secara benar dan sedemikian ketat, maka ini (atau apapun) juga merupakan (salah satu) metode yang dapat dipertanggung-jawabkan (bukankah kita juga demikian di dalam kehidupan sehari-hari!).

Justru, jika anda telah mahir di dalam menggunakan gedanken dan bersedia untuk mengasah lagi agar lebih trampil dari sebelumnya, anda dapat segera mengenali (lebih teliti dan tajam) terhadap dua hal dengan batasan yang saling bersinggungan sedemikian dekat, yang jika tidak dilihat melalui penalaran imajinatif, boleh jadi anda menganggap hal itu sebagai satu hal saja. Melalui ketrampilan ini, anda dapat mengenali batasan dari sesuatu hal dengan lebih cepat dan sangat mendasar, sehingga anda dapat mengenali batasan sesuatu (definisi dari sesuatu) lebih akurat lagi dari sebelumnya.

Anda dapat mensimulasikan es yang dapat MELIHAT kekerasan dirinya sendiri sebagai suatu bentuk simulasi bagi keadaan “mengamati object sebagaimana kita memutar object tiga dimensi pada layar simulasi computer”. Atau anda dapat mengijinkan batu yang keras “untuk berenang membebaskan diri” ketika sedang jatuh ke dalam pusaran air, sebagai bentuk simulasi yang mewakili “object yang ditempelkan kepadanya sensor dan daya dorong”, dan seterusnya. Bagi yang belum terbiasa menggunakan sarana penalaran imajinatif seperti ini, akan merasakan suatu kejanggalan dari seseorang yang mengemukakan suatu pemahaman yang berasal dari penalaran imajinatif. Tetapi ini tidak berarti suatu bentuk penalaran yang kacau.

Melalui penalaran imajinatif anda dapat mengetahui bahwa boleh jadi suatu definisi yang telah diakui secara umum dapat berbeda dari yang anda pahami. Apakah itu berarti kita yang salah, atau pendapat umum yang salah? Bukan demikian, tetapi sejauh hal itu dianggap sebagai hal yang subyektif, maka bersikaplah atas dasar subyektifitas dengan menjaga konsistensi sikap anda yang berdasarkan ketegasan diri anda (yang bagi orang lain dapat berbeda – subyektifitas itu sendiri), lalu lihatlah bagaimana hal itu membantu kehidupan anda. Itu saja.

Sedikit mengulang untuk menegaskan, bahwa laboratorium pikiran ini sebenarnya telah dikenal lama dan cukup banyak dipraktekkan dan banyak memberikan solusi. Tetapi seperti yang kita ketahui, bahkan akurasinya juga tidak dapat dipastikan. Namun tidak berarti sampai batas tertentu kita tidak dapat memperoleh akurasi dari laboratorium pikiran ini. Dan untuk menjaga akurasi dibutuhkan yaitu: kejelasan dan ketahanan imajinasi yang kuat dan penguasaan pokok kebenaran axiomatis secara teguh agar ketika di konversi ke dunia visual tetap dapat teguh mensimulasikan karakter dari kebenaran axiomatis. Dari sini kita memulai membentuk simulasi interaksi untuk mencari kesimpulan atau pengetahuan yang baru.

Mengenai bagaimana penalaran imajinatif bekerja, ini sedikit penjelasan garis besarnya:

1. Ada definisi yang akan diuji, lalu elemen dari definisi ini kita kupas sampai sedemikian detail
2. Semua elemen dari definisi tersebut harus kita pahami hukum-hukumnya
3. Kemudian kita ambil lagi kebenaran (hukum) yang axiomatis yang berkaitan dengan elemen dari definisi
4. Kita simulasikan (kita mainkan) semua batasan dari setiap elemen milik dari definisi (yang akan di uji) beserta batasan pada butir ke (3). untuk melihat apakah di antara batasan dari butir ke (2). dapat terhubung dengan batasan dari butir ke (3).
5. Jika di antara batasan dari butir ke (2). tidak terdapat saling pertentangan dengan batasan dari butir ke (3). sehingga masing-masing membentuk saling keterhubungan atau membentuk aliran konsekuensi, maka definisi dinyatakan berhasil.

Masih banyak sebenarnya hal yang perlu dijelaskan mengenai bagaimana menyelenggarakan penalaran imajinatif yang akurat. Salah satu contohnya adalah meletakkan batasan paling ekstrim, dan sebagainya. Memang sebenarnya penjelasan inipun saya rasa masih jauh dari lengkap, tetapi semoga paling tidak ini dapat menjelaskan kepada anda agar jangan sebegitu mudahnya menolak sesuatu yang baru (belum pernah dicoba) dan juga jangan mudah menerima sesuatu yang baru. Intinya, bersikaplah terbuka dan jangan gengsi untuk mempelajari sesuatu yang baru. Sayapun belajar ini dari seseorang, dan demi meraih kebenaran, saya lepaskan ego. Semoga dengan keterbukaan internet, anda dapat lebih terbuka (toleran) terhadap kemungkinan yang boleh jadi merupakan perluasan di dalam cara menalar maupun bersikap yang dapat membawa manfaat bagi kehidupan sehari-hari kita atau keluarga dan orang lain.

Categories: Philosophy
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.