March 11, 2009 at 4:03 pm (Philosophy)
Tags: atom, atribute, bagian, batasan, berawal, boundaries, boundary, closest, function, fungsi, getaran, God, keberadaan, ketiadaan, ketuhanan, ketunggalan, limit, luas, one, only, particles, partikel, pendaran, pergerakan, pergeseran, sama, satu, serba, tak, teologi, terbatas, terdekat, terkecil, terluar
Sebaiknya simaklah terlebih dahulu tentang pembuktian keberadaan Tuhan (There is God !) sebelum menelaah artikel ini.
Sebagaimana telah dinyatakan tentang pembuktian adanya “KEBERADAAN TAK BERAWAL”, tentu ini memberikan konsekuensi lebih lanjut yaitu adanya kemungkinan lebih dari satu “KEBERADAAN TAK BERAWAL”, dimana masing-masing dari keberadaan tak berawal tersebut boleh jadi merupakan keberadaan tak berawal bagi keberawalan seluruh jenis kucing, atau bakteri, atau lainnya apapun itu (seolah-olah ada tuhannya kucing, tuhannya bakteri, tuhannya batu, setiap sesuatu dengan tuhannya sendiri-sendiri atau bahkan tuhannya alam – alam semesta). Yang masing-masing dari tuhan ini juga dapat dianggap sebagai tak berawal.
Konsekuensi atas dugaan adanya banyak keberadaan tak berawal (lebih dari satu) ini telah dipikirkan beberapa tahun setelah mengetahui adanya bukti “KEBERADAAN TAK BERAWAL”. Dan setelah saya temukan argumentasinya serta sekali lagi belum adanya pembahasan dengan pola kedalaman seperti yang telah saya eksplorasi, maka pada akhirnya pembuktian hanya ada satu keberadaan tak berawal saya publikasi.
Argumentasi ini mungkin tidak sesuai bagi setiap orang, karena masing-masing pribadi memiliki kecenderungan yang berbeda dalam menanggapi tentang argumentasi seperti apa yang sesuai bagi setiap pribadi. Ini bukan masalah, dan memang tidak setiap pribadi dapat sesuai untuk keseluruhan pribadi.
Read the rest of this entry »
Leave a Comment
March 11, 2009 at 4:00 pm (Philosophy)
Tags: akar, arah, ateis, atheisme, back, batas, berawal, consequence, creation, creator, existence, first, God, keberadaan, ketuhanan, konsekuensi, limited, menciptakan, mundur, pattern, penciptaan, penelusuran, pola, ranah, root, temu, teologi, terbatas, there, titik, track, trackback, tuhan, ujung, unlimited, vector
Setelah sekian lama mencari kebenaran dan akhirnya menemukan bukti kebenaran keberadaan Tuhan, … dan setelah mengetahui belum adanya argumentasi dengan eksplorasi pola kedalaman seperti yang telah saya ekplorasi, maka saya memulai publikasi ini. Anda dapat menambah wawasan dengan membaca argumentasi dari Aristotle dan lainnya.
Argumentasi ini menyempurnakan argumentasi yang mungkin telah anda kenal yaitu: “karena penelusuran mundur tak terbatas tidak mungkin, maka akan berakhir kepada Sesuatu yang paling awal (Tuhan)”, dimana penyempurnaan dilakukan dengan meniadakan alasan yang bersandar kepada ketidak-terbatasan. Read the rest of this entry »
4 Comments
January 20, 2009 at 1:21 am (Philosophy)
Tags: argument, classical, debate, existence, God, reason
Majid Fakhry
(The Muslim world 47:1957, pp. 133-145.)
After Wensinck’s brilliant study,[1] a fresh examination of the argument for the existence of God in Islam might appear impertinent. Some justification for the present discussion, however, may be found in the fact that some of the material on which this study is based was not available to Wensinck, when his monograph appeared in 1936, and in the slightly different interpretation of certain relevant data here attempted.
The systematic examination of the proofs of the existence of God should be preceded by a legitimate enquiry: Is the demonstration of God’s existence possible at all? In the Latin scholastic treatises of the Middle Ages, as for example in the Summa Theologica of St. Thomas Aquinas (d. 1274) this enquiry figures as the prelude to the demonstration of God’s existence proper. Although Wensinck has discussed some aspects of the problem of knowledge (erkenntnislehre) in his celebrated Muslim Creed,[2] he does not touch upon this particular aspect of the problem in his monograph, except incidentally, as, for example, in connection with Al-Ghazali’s attitude to the question of God’s existence.[3] But this question, it would seem, requires a fuller treatment than is accorded it in that parenthesis.
Read the rest of this entry »
Leave a Comment
January 20, 2009 at 1:05 am (Philosophy)
Tags: God, ketuhanan, one, teologi, there
Asal segala sesuatu berada dalam dua kemungkinan yaitu berasal dari sesuatu atau tidak berasal dari sesuatupun. Jika dijawab sesuatu selalu berasal dari sesuatu sebelumnya maka penghitungan mundur dari sesuatu (yang merupakan akibat) menuju ke asal mulanya sesuatu (sebab) melibatkan pengurangan angka atau dengan kata lain memiliki hitungan mundur. Ini bermakna bahwa hitungan mundur akan berkurang menuju ke angka satu. Dan hal ini menegaskan bahwa segala sesuatu pasti dapat ditelusuri mundur sampai ke titik paling awal yang merupakan keberadaan tak berawal.
Kesatuan adalah setara dengan jumlah bagian-bagiannya, sehingga jika ada sejumlah tertentu kesatuan, maka jumlah totalnya adalah juga setara dengan jumlah total dari keseluruhan bagian-bagian dari setiap kesatuan-kesatuan yang ada yang terkait dengan bagian-bagiannya itu sendiri. Dan luas suatu kesatuan tidak dapat bertambah hanya oleh dirinya sendiri.
Jika keseluruhan bagian dari suatu kesatuan tertentu ditunjuk tanpa satu bagianpun yang terlewatkan, dan dilakukan penelusuran mundur, maka luas gabungan keseluruhan bagian yang satupun tidak terlewatkan tersebut (dari awal dan selama penelusuran mundur) memiliki perubahan ukuran luas yang tidak akan pernah melampaui kesatuannya, sehingga penelusuran mundur tersebut harus berhenti atau kalau tidak maka dapat dikenakan angka berapapun terhadap luas kesatuannya, dan ini sama saja menyatakan bahwa bagian-bagian tersebut tidak memiliki kesatuan yang merupakan kemustahilan.
Read the rest of this entry »
2 Comments